"PELUKAN HANGAT"
Mentari
pagi menyapa riang,kicaun burung menjadi pertanda bahwa kehidupan telah
dimulai,embun menyelimuti daun,membuatnya terlihat lebih segar.
Perkenalkan namaku Alya,anak kelas 2 SMP,pagi ini aku sudah
krasah-krusuh menepis semua kerumunan jalan,gang yang sempit,buru-buru
takut ditinggal bus sekolah,karena lebih ongkosnya lebih murah daripada
angkutan umum.
Sekarang
aku telah sampai didepan gerbang sekolah,syukur tidak terlambat lagi,
beberapa temanku asik jalan kaki sambil bercengkrama riang dengan teman
yang lain, melangkah menuju kelas,beberapa yang lain diantar orang tua
mereka dengan mobil pribadi,elegan. Semua sangat berbeda denganku,hidup
dengan cara lebih sederhana.
Ku
langkahkan kaki menuju kelas,beberapa kelas sudah ramai oleh
siswa-siswi yang memang rajin dengan
PR,biasa, keasikan main game atau chatingan malam membuat mereka lupa
bahwa hari ini ibu Jawanis akan masuk,jam pertama pula,Hilya teman
semejaku menyapa,sambil menampilkan senyum sindiran padaku
“ya,tumben kamu ngga terlambat,udah buat PR blum?” dengan wajah bagaikan seorang pemenang
“kita
itu hil, harus ada kemajuan,kata-kata ceramah ni,yang aku nonton di TV
namanya hijrah,dan untuk masalah PR seperti biasa donk,aku sudah
siap,alhamdulillah” Alya menampilkan senyum terbaiknya
“wiw,udah kaya ustadzah Rini aja kamu,salut,salut” Hilya menepuk pundakku,seperti kebiasaannya.
“efek ngajinya mujarab,sampai kehati hingga ke jiwa” ketawanya iklas banget
Tiba-tiba
percakapan kami terhenti,lonceng pertanda jam pelajaran dimulai
terdengar nyaring,semua temanku bergegas menulis dengan cepat,tak tau
tulisan sudah berbentuk apa,beberapa yang lain sudah duduk di tempat
masing-masing.
Dreet...
Pintu
kelas bergesek, langkah kaki nan amat kami kenali itu memasuki ruang
kelas,ukiran wajah nan tegas,penampilan nan mapan dan rapi,mata yang
tajam,ya kami memanggilnya buk Jawanis,namun temanku yang tenar nakalnya
menyebutnya buk Jawa,kelas seketika diam,tidak ada temanku yang mau
bermasalah,apalagi setelah kejadian seminggu yang lalu,kami full sekelas
dihukum estafet air kolam ikan hingga memenuhi satu drum penampung air
hujan,bayangkan jauh dan baunya air itu,tapi sudahlah lupakan,sudah
menjadi masalalu. Pelajaran dimulai.
“Assalamu’alaikum
anak-anak,pagi ini ibu akan memberikan kalian siraman rohani,kali ini
ibu akan bercerita tentang tokoh suri tauladan terbaik akhir zaman,yaitu
kisah Nabi kita,Nabi Muhammad saw,apakah kalian tau bahwa Muhammad
kecil sudah terlahir yatim,ditinggalkan seorang ayah yang tak pernah ia
kenali semasa hidupnya,namanya Abdullah,pada saat beliau masih dalam
kandungan, dan beberapa tahun kemudian Muhammad kecil malah menjadi
yatim piatu karena kepergian ibunya Aminah,saat itu usiaanya masih 6
tahun,bayangkan di usia sedini itu tak berayah tak beribu,dengan apa
diri ini hidup apalagi mendapat kasih sayang, Muhammad kecil menjalani
kehidupannya dengan lebih tegar dan kuat,lingkungan sekitar menjadi guru
terbaik bagi-nya,mulai dari berternak lembu,bahkan ikut berdagang
dengan pamannya Abu Thalib, Muhammad tumbuh dengan pemahaman hidup yang
menakjubkan,ia menjadi pedagang yang jujur,karena itu daganagnnya selalu
laris terjual,kehidupan selanjutnya malah lebih menguji iman lagi,nah
dari kisah singkat yang ibu ceritakan, apa hikmah yang dapat kita ambil
sebagai pedoman hidup masa kini?” buk jawanis memang menceritakannya
dengan tenang,namun raut wajahnya tak ada ubahnya,datar,meninggikan nada
satu oktaf ketika melontarkan pertanyaan.
“ya Alya,sebutkan!”
“menurut
Alya bu,hidup itu jangan pernah beranggapan bahwa diri kita yang paling
sulit,karena lebih banyak yang lebih sulit,namun mereka hidup dengan
penuh syukur,dan untuk mendapat sebuah ilmu,tak hanya pada seorang
pengajar,karena proses kehidupanpun akan menjadi salah satu pengjaran
terbaik bagi kita,mungkin hanya itu yang dapat Alya sampaikan bu.”
Dengan keberanian yang telah kukumpulkan sejak tadi,maka aku spontan
mengankat tangan,dengan nada yang tak kalah tegas namun tajam.
“ya
bagus Alya,salah satu guru terbaik adalah alam,lingkungan dimana kita
berpijak,oke kali ini mari kita masuk ke pelajaran selanjutnya,letak dan
batas Indonesia, PR yang ibu beri kemaren,tolong ketua kelas
kumpulkan.”
Beberapa
temanku mengaduh,bagaimana tidak PR yang diberi buk Jawanis tak kurang
dari 3 halaman,untuk temanku yang memiliki tulisan besar bahkan bisa
menjadi 5 halaman.
Jam
terus berputar,hingga lonceng istirahat berdering,Hilya mengajakku
untuk ke kantin,namun seperti biasanya aku selalu menghabiskan waktu
istirahat di mesjid atau di perpustakaan,dua tempat yang menjadi
faforitku di sekolah. Kali ini ku langkahkan kaki ku ke perpustakaan
membaca buku geografi untuk menambah pemahamanku tentang pelajaran yang
aku pelajari tadi. Beberapa pegawai perpustakaan sibuk melayani siswa
yang ingin meminjam atau memperpanjang bukunya. Selintas pikiran itu
menghampiri otakku,hmm pegawai pustaka,hanya bekerja duduk ditempat
melayani,lalu ketika jam kerja selesai kemudian pulang,dan bisa dihitung
hanya beberapa siswa yang kenal dengan guru-guru yang berada di
pustaka,namun banyak juga yang minat mengambil jurusan menjadi petugas
perpustakaan malah,pikiran negatif itu muncul tak terbendung,namun aku
langsung beristighfar,bukannya tadi kami telah diberi nasehat bahwa ilmu
itu ada dimana saja,bahkan untuk seorang pegawai pustaka,aku masih
penasaran. Beberapa menit kemudian lonceng kembali berdenting
nyaring,bertanda pelajaran selanjutnya akan dimulai,kali ini aku akan
belajar dengan pak Yusmal Yalni,warga sekolah lebih topnya manggilnya
dengan sebutan pak Yeye,entah darimana asal nama itu,tapi unik. Namun
asal kalian tau,nama bapak ini tak seunik wajahnya atau
aslinya,kebanyakan dari sisw-siswi tak ingin berurusan dengannya,kumis
nya yang hitam legam,dan garis wajah yang tegas membuat perannya semakin
kokoh disekolah yaitu sebagai waka dan guru PPKN,yap selanjutnya kami
belajar PPKN.
“ok
antum-antum semua karena kita sudah menamatkan BAB ke2 maka hari ini
kita akan ulangan harian,semua buku disimpan,dan keluarkan kertas satu
lembar.” Dengan nada tegas,sekali-sekali memegang kumisnya.
Ya,ini
salah satu kebiasaan pak Yeye,ujian mendadak,tapi kami semua sudah
sedikit terlatih untuk penyerangan seperti ini. Aku asik dengan
tulisanku,pulpenku menari diatas kertas nan kini tak putih lagi,sesekali
aku memperhatikan sekitar,ada yang sibuk menulis,mungkin karena dia
benar-benar menghafal,ada yang menghayal,sepertinya sedang mengarang
jawaban yang layak,dan ada yang lebih parahnya,garuk-garuk kepala tak
karuang,bahkan kepalanya bagaikan kepala angsa,tapi jangan pernah
terlalu nekad,pak yeye pasti tau apa yang kalian lakukan.
Jam
pertama pelajaran dihabiskan untuk ulangan,masuk jam kedua kami
melanjutkan ke pelajaran BAB3 Bhineka Tunggal Ika. Salah satu yang perlu
kalian tau dari pak yeye ialah,disamping wajahnya yang terlihat
menakutkan,pak yeye sebenarnya guru yang amat menyenangkan dan mudah
bergaul,hal ini lebih dipahami oleh kakak kelas 3 kami,karena mereka
yang sering bercanda dengan pak yeye,namun tetap pada batasannya. Dan
pak yeye juga menjadi salah satu guru faforitku,karena beliau selalu
mengaitkan materi yang ia ajarkan dengan dali Al Quran,seperti kali ini
materi Bhineka Tunggal Ika beliau kaitkan dengan Q.S al Hujurat ayat
13.
“sama
dengan pelajaran yang antum pelajari sekarang,di dalam firman Allah
tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa kita diciptakan
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kita saling mengenal,apapun
bentuk,warna kulit kita,bahkan agama dan budaya kita,kita harus tetap
satu,seperti Bhineka Tunggal Ika dan terikat landasan Pancasila,dan
seperti salah satu pesan di film yang bapak nonton kemaren Pancasila itu
bukan hanya digunakan saat kita dinegara kita saja,namun Pancasila itu
di hati,nah siapa yang tau film itu?” dengan raut wajah sedikit
sumringah
“ayat-ayat
cinta 2 paaak” kami sekelas serentak menjawab.Bagaimana tidak film itu
termasuk pada nominasi film trending topik akhir Desember ini. Pak Yeye
memang sekali-sekali memberi bumbu lucu pada setiap pelajarannya,namun
tak pernah sampai menghilangkan wibawanya. Lonceng kembali
berdenting,mengakhiri pelajaran hari ini dan pelajaran hari ini berakhir
dengan menyenangkan.
Siang
harinya kegiatanku tak seperti anak-anak biasanya,yang bisa
bermain,atau tidur-tiduran,pulang sekolah selepas shalat dzuhur dan
makan aku harus menggantikan pekerjaan ibu dirumah,mulai dari
menyapu,menyuci piring,hingga menyuci pakaian,dan menjaga adikku,Arsyila
namanya,setelah semua tugasku selesai barulah aku bisa rehat
sejenak,melanjutkan hobiku membaca,buku-buku yang ku punya bukan berasal
dari toko-toko nan bukunya dilapisi plastik,buku-buku yang ku punya
ialah hadiah dari ibu dan ayah,mereka selalu membelikanku buku bekas di
pasar loak,jika penghasilannya lebih baik,bagiku tak apa,toh semua buku
ini isinya masih bisa dibaca,banyak ragam ilmu yang bisa kudapat
didalamnya.
Semburata
jingga menghiasi awan,induk ayam mulai menggiring anak-anaknya untuk
masuk kandang,beberapa lampu rumah mulai diterangi cahaya,ibu dan ayah
pulang,seperti biasa jelas raut lelah di wajahnya,namun ia tetap
menampilkan seutas senyum nan teramat iklas. “assalamu’alaikum Ay,syila”
de
“wa’alaikumsalam
yah bu” aku dan syila lekas menyalami ayah dan ibu,bergegas mengambil
tas kerja lusuh yang dibawa ibu,pasti mereka teramat lelah. Ayah dan
ibuku bekerja di pabrik pembuat petasan.
Malam
diselimuti siluet hitam,dihiasi titik putih karena sinaran
lampu,beberapa masih memakai petromaks. Malam ini seperti biasa kami
kumpul di meja makan,ibu baru memasak ikan asin dicampuri kentang dan
jengkol,kesukaan ayah. Di meja makan ayah bertanya seperti biasa.
“bagaimana hari-harimu di sekolah Alya”
“masih
seperti biasa yah,belajar dengan guru-guru yang ngajarnya super
asik,dan tadi Alya ada peningkatan loh yah” dengan wajahku
berbinar-binar
“iya,apa itu?”
“Alya tadi tak terlambat lagi”
“kan
bagus jika Alya datang pagi nak,jadi tak ngos-nsgosan pas udah
disekolah,jadi bisa lebih fokus lagi belajarnya” kali ini ibu yang ikut
menanggapi
“syila ko ga ditnya yah” manyun wajah tomat
“eh,iya ,syila skolahnya bagaimana,asik nak?”
“asik yah,tapi tetap ada teman syila yang jail”
“tapi syila ga balaskan?” ibu menyelidik
“selagi syila sabar,syila ga balas ko bu”
“anak-anak
ayah dan ibu disekolah harus jadi anak yang shalehah,anak yang
baik,yang patuh pada bapak dan ibu gurunya,mereka sama seperti ayah dan
ibu yang mendidik kalian,paham?” kali ini ayah serius,memberi nasehat
“untuk masalah,guru yah,insyaallah kami menjadi murid yang disayangi yah” tiba-tiba jawabanku dan syila serentak sama.
Hari
berganti hari,bulan berganti bulan,bahakan tahun berganti
tahun,sekarang aku telah berada di akhir kelas 3, beberapa bulan lagi
akan menghadapi ujian nasional,prestasiku semakin meningkat,semester
satu kemaren aku berhasil meraih juara satu,dan untuk masalah berangkat
kesekolah kini aku tak menjadi si terlambat lagi,aku memperbaiki jam
berangkatku,mempersiapkan semuanya dikala malam sebelum tidur,begitu
juga adikku syila,akhir-akhir ini ia jarang menangis atau meminta
sesuatu seperti yang dimiliki temannya disekolah,kini ia lebih paham
tentang hakikat hidup,tentang harga-menghargai.
Tak
seperti biasanya,pagi ini hatiku sedikit gelisah entah karena
apa,memang beberapa minggu belakangan ibu sering batuk-batuk dan sedikit
pucat,namun ibu tetap bersemangat pergi bersama ayah bekerja,tetap
tersenyum dan bertanya sekolah kami di meja makan dan tetap seperti yang
ibu lakukan biasanya. Pagi ini aku tetap memutuskan untuk sekolah
karena ada pelajaran tambahan bersama buk Jawanis dan pak Yeye,kali ini
giliran mereka. Disekolah aku dan adikku Arsyila memang dikenal rajin
dan pandai,kami disenangi semua teman maupun guru,semua serasa keluarga
bagi kami.
Jam
pertama bersama buk Jawanis seperti biasanya tetap lancar,kali ini buk
Jawanis sedikit mengurangi untuk bercerita,karena kami akan menghadapi
ujian akhir sekolah dan ujian nasional,ujian yang menjadi penentu dari
perjuangan kami selama ini. Lonceng berdenting nyaring,bertanda saatnya
istirahat,kali ini aku lebih memilih untuk ke mesjid,sampai saat ini
hatiku masih gelisah,apakah karena kondisi ibu,atau karena masa-masa
ujian akan datang,aku segera berwudhu,shalat duha akan memberi
ketenangan,doa untuk ibu semoga lekas sehat dan seperti biasanya yang
kami lihat,shalat ini membuat hatiku lebih lapang,semoga semua baik-baik
saja.
Jam
pelajaran selanjutnya,kami belajar dengan pak Yeye bab terakhir tentang
HAM,lagi-lagi pak Yeye mengaitkannya dengan Al Quran.
“taukah
antum semua,jika di dunia kita memiliki hak hidup,berpolitik,menyatakan
pendapat,maka dengan Allah swt kita juga memiliki hak untuk
kembali,kembali kepada yang telah menjadikan semua yang
bernyawa,yakinlah semua yang kita punyai sekarang hanyalah titipan,tak
lebih tak kurang,seperti yang sering kita ucapkan Innalillahi wa
innailaihi raji’un,sesungguhnya semua berasal dari Allah dan akan
kembali kepada Allah,maka kematian adalah salah satu hak yang diberikan
Allah kepada kita,maka janganlah kalian terlalu berlarut-larut atas
semua yang ada lalu meninggalkan kita” dengan nada sendu namun tersimpan
ketegasan didalamnya.
“baik
anak-anak kita lanjut ke materi HAM,itu sedikit pemahaman agama yang
dapat bapak berikan kepada kalian,maka amalaknlah baik-baik.”
“baik pak” kami semua menjawap serempak.
Entah
angin apa yang membawa kabar itu,tiba-tiba semua serasa berubah bagiku
hatiku ngilu seperti tertusuk sembilu berduri,langkahku lunglai
meninggalkan kelas,butiran bening itu mulai menggenangi sudut
mataku,bahkan teman-temanku hanya menatapku kosong,diam tak berkutik,buk
Jawanis langsung yang menyampaikan kepadaku tergopoh-gopoh,membimbingku
menuju mobil sekolah,ternyata didalamnya telah ada adikku
Arsyila,bahkan ia lebih panik lagi,badannya mendingin,kami segera
kerumah sakit.
Dirumah
sakit aku dan adikku,dan bu Jawanis,ibu yang sudah seperti ibuku
sendiri,kami bertiga hanya bisa berada dipintu ruang UGD,kedua orang tua
ku sekarang didalam sana,dokter sepertinya sangat bekerja keras untuk
masalah ini. Beberapa jam kemudian sang dokter keluar,raut wajahnya
sepertinya tak baik,amata berat dokter itu menjelaskannya kepada
kami,namun apa daya,seperti yang dikatakan pak Yeye tadi benar,amat
benar,semua yang hidup akan pulang kepada yang Maha Hidup. Aku dan
adikku benar-benar terpukul,ibu dan ayah kami telah tiada.
Keeseokkan
harinya kami tentu tidak sekolah,jenazah ibu dan ayah telah sampai
dirumah,kami dibantu tetangga sekitar untuk mempersiapkan
rumah,mempersiapkan segala sesuatu untuk pemakaman. Beberapa jam
kemudian halaman rumahku telah ramai,karib kerabat ibu dan ayah yang
dekat maupun jauh berdatangan,namun kali ini lebih ramai,ternyata
guru-guru dan teman-temanku datang,mereka juga ikut turut teramat
berduka akan kepergian ini. Kemudian kami mengantarkan mayat ibu dan
ayah ke pemakaman,dengan teramat sakit,ku paksakan tetap tegar di depan
adikku,tentu ia yang amat terpukul. Pulang dari sana aku hanya bisa
duduk bersandarkan dinding,sedangkan adikku telah tidur karena teramat
lelah. Guru-guru dan teman-temanku masih disini,mereka membacakan surah
yasin bersama-sama,aku juga ikut,hadiah terbaik untuk ayah dan ibu.
Setelah pembacaan yasin beberapa temanku berangsur pulang,hanya Hilya
yang tinggal,ia baru menghampiriku.
“Alya,sini
aku peluk,kamu masih ingatkan kisah yang diceritakan buk jawa ketika
hari pertama kita sekolah? Sabarlah,sesungguhnya Allah sedang
mengujimu.” Memeluk Alya dengan lembut
“terimakasih sahabatku,kau memang benar”
Hanya
itu yang dapat disampaikan Hilya,kejadian ini benar-benar membuat jiwa
goyah. Beberapa menit kemudian guru-guruku masih dirumahku,tunggu,mereka
mendekatiku,tiba-tiba memelukku.
“Alya
kau adalah anak yang berhati lurus,dan memiliki pemahaman hidup yang
baik nak,maka tetaplah raih mimpi-mimpimu.” Pak Yeye yang
mengawalinya,memberi nasehat terbaiknya
“sesungguhnya
saat ini Allah sedang mengujimu Alya,akankah engkau bisa melewati ujian
ini dengan sabar dan iklas,jika iya,maka Allah akan mengangkat
derajatmu,tetaplah berpegang teguh dan menjadi murid ibu yang shalihah”
kali ini bu Jawanis yang memberi nasehat tulus itu
Dan
guru yang lainnya memelukku dengan kasih sayang,memberikanku
kehangatan,ini membuatku teringat pesan ibu,bahwa guruku juga orang tua
ku.
Hari-hari berikutnya,aku menjadi lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar