Rabu, 31 Juli 2019

CERPEN ANAK TERBAIK MEMOTIVASI



"PELUKAN HANGAT"


       Mentari pagi menyapa riang,kicaun burung menjadi pertanda bahwa kehidupan telah dimulai,embun menyelimuti daun,membuatnya terlihat lebih segar. Perkenalkan namaku Alya,anak kelas 2 SMP,pagi ini aku sudah krasah-krusuh menepis semua kerumunan jalan,gang yang sempit,buru-buru takut ditinggal bus sekolah,karena lebih ongkosnya lebih murah daripada angkutan umum.
      Sekarang aku telah sampai didepan gerbang sekolah,syukur tidak terlambat lagi, beberapa temanku  asik jalan kaki sambil bercengkrama riang dengan teman yang lain, melangkah  menuju kelas,beberapa yang lain diantar orang tua mereka dengan mobil pribadi,elegan. Semua sangat berbeda denganku,hidup dengan cara lebih sederhana.
    Ku langkahkan kaki menuju kelas,beberapa kelas sudah ramai oleh siswa-siswi yang memang rajin dengan PR,biasa, keasikan main game atau chatingan malam membuat mereka lupa bahwa hari ini ibu Jawanis akan masuk,jam pertama pula,Hilya teman semejaku menyapa,sambil menampilkan senyum sindiran padaku
“ya,tumben kamu ngga terlambat,udah buat PR blum?” dengan wajah bagaikan seorang pemenang
“kita itu hil, harus ada kemajuan,kata-kata ceramah ni,yang aku nonton di TV namanya hijrah,dan untuk masalah PR seperti biasa donk,aku sudah siap,alhamdulillah” Alya menampilkan senyum terbaiknya
“wiw,udah kaya ustadzah Rini aja kamu,salut,salut” Hilya menepuk pundakku,seperti kebiasaannya.
“efek ngajinya mujarab,sampai kehati hingga ke jiwa” ketawanya iklas banget
 Tiba-tiba percakapan kami terhenti,lonceng pertanda jam pelajaran dimulai terdengar nyaring,semua temanku bergegas menulis dengan cepat,tak tau tulisan sudah berbentuk apa,beberapa yang lain sudah duduk di tempat masing-masing.
Dreet...
Pintu kelas bergesek, langkah kaki nan amat kami kenali itu memasuki ruang kelas,ukiran wajah nan tegas,penampilan nan mapan dan rapi,mata yang tajam,ya kami memanggilnya buk Jawanis,namun temanku yang tenar nakalnya menyebutnya buk Jawa,kelas seketika diam,tidak ada temanku yang mau bermasalah,apalagi setelah kejadian seminggu yang lalu,kami full sekelas dihukum estafet air kolam ikan hingga memenuhi satu drum penampung air hujan,bayangkan jauh dan baunya air itu,tapi sudahlah lupakan,sudah menjadi masalalu. Pelajaran dimulai.
“Assalamu’alaikum anak-anak,pagi ini ibu akan memberikan kalian siraman rohani,kali ini ibu akan bercerita tentang tokoh suri tauladan terbaik akhir zaman,yaitu kisah Nabi kita,Nabi Muhammad saw,apakah kalian tau bahwa Muhammad kecil sudah terlahir yatim,ditinggalkan seorang ayah yang tak pernah ia kenali semasa hidupnya,namanya Abdullah,pada saat beliau masih dalam kandungan, dan  beberapa tahun kemudian Muhammad kecil malah menjadi yatim piatu karena kepergian ibunya Aminah,saat itu usiaanya masih 6 tahun,bayangkan di usia sedini itu tak berayah tak beribu,dengan apa diri ini hidup apalagi mendapat kasih sayang, Muhammad kecil menjalani kehidupannya dengan lebih tegar dan kuat,lingkungan sekitar menjadi guru terbaik bagi-nya,mulai dari berternak lembu,bahkan ikut berdagang dengan pamannya Abu Thalib, Muhammad tumbuh dengan pemahaman hidup yang menakjubkan,ia menjadi pedagang yang jujur,karena itu daganagnnya selalu laris terjual,kehidupan selanjutnya malah lebih menguji iman lagi,nah dari kisah singkat  yang ibu ceritakan, apa hikmah yang dapat kita ambil sebagai pedoman hidup masa kini?” buk jawanis memang menceritakannya dengan tenang,namun raut wajahnya tak ada ubahnya,datar,meninggikan nada satu oktaf ketika melontarkan pertanyaan.
“ya Alya,sebutkan!”
“menurut Alya bu,hidup itu jangan pernah beranggapan bahwa diri kita yang paling sulit,karena lebih banyak yang lebih sulit,namun mereka hidup dengan penuh syukur,dan untuk mendapat sebuah ilmu,tak hanya pada seorang pengajar,karena proses kehidupanpun akan menjadi salah satu pengjaran terbaik bagi kita,mungkin hanya itu yang dapat Alya sampaikan bu.” Dengan keberanian yang telah kukumpulkan sejak tadi,maka aku spontan mengankat tangan,dengan nada yang tak kalah tegas namun tajam.
“ya bagus Alya,salah satu guru terbaik adalah alam,lingkungan dimana kita berpijak,oke kali ini mari kita masuk ke pelajaran selanjutnya,letak dan batas Indonesia, PR yang ibu beri kemaren,tolong ketua kelas kumpulkan.”
Beberapa temanku mengaduh,bagaimana tidak PR yang diberi buk Jawanis tak kurang dari 3 halaman,untuk temanku yang memiliki tulisan besar bahkan bisa menjadi 5 halaman.
            Jam terus berputar,hingga lonceng istirahat berdering,Hilya mengajakku untuk ke kantin,namun seperti biasanya aku selalu menghabiskan waktu istirahat di mesjid atau di perpustakaan,dua tempat yang menjadi faforitku di sekolah. Kali ini ku langkahkan kaki ku ke perpustakaan membaca buku geografi untuk menambah pemahamanku tentang  pelajaran yang aku pelajari  tadi. Beberapa pegawai perpustakaan sibuk melayani siswa yang ingin meminjam atau memperpanjang bukunya. Selintas pikiran itu menghampiri otakku,hmm pegawai pustaka,hanya bekerja duduk ditempat melayani,lalu ketika jam kerja selesai kemudian pulang,dan bisa dihitung hanya beberapa siswa yang kenal dengan guru-guru yang berada di pustaka,namun banyak juga yang minat mengambil jurusan menjadi petugas perpustakaan malah,pikiran negatif itu muncul tak terbendung,namun aku langsung beristighfar,bukannya tadi kami telah diberi nasehat bahwa ilmu itu ada dimana saja,bahkan untuk seorang pegawai pustaka,aku masih penasaran. Beberapa menit kemudian lonceng kembali berdenting nyaring,bertanda pelajaran selanjutnya akan dimulai,kali ini aku akan belajar dengan pak  Yusmal Yalni,warga sekolah lebih topnya manggilnya dengan sebutan pak Yeye,entah darimana asal nama itu,tapi unik. Namun asal kalian tau,nama bapak ini tak seunik wajahnya atau aslinya,kebanyakan dari sisw-siswi tak ingin berurusan dengannya,kumis nya yang hitam legam,dan garis wajah yang tegas membuat perannya semakin kokoh disekolah yaitu sebagai waka dan guru PPKN,yap selanjutnya kami belajar PPKN.
“ok antum-antum semua karena kita sudah menamatkan BAB ke2 maka hari ini kita akan ulangan harian,semua buku disimpan,dan keluarkan kertas satu lembar.” Dengan nada tegas,sekali-sekali memegang kumisnya.
Ya,ini salah satu kebiasaan pak Yeye,ujian mendadak,tapi kami semua sudah sedikit terlatih untuk penyerangan seperti ini. Aku asik dengan tulisanku,pulpenku menari diatas kertas nan kini tak putih lagi,sesekali aku memperhatikan sekitar,ada yang sibuk menulis,mungkin karena dia benar-benar menghafal,ada yang menghayal,sepertinya sedang mengarang jawaban yang layak,dan ada yang lebih parahnya,garuk-garuk kepala tak karuang,bahkan kepalanya bagaikan kepala angsa,tapi jangan pernah terlalu nekad,pak yeye pasti tau apa yang kalian lakukan.
        Jam pertama pelajaran dihabiskan untuk ulangan,masuk jam kedua kami melanjutkan ke pelajaran BAB3 Bhineka Tunggal Ika. Salah satu yang perlu kalian tau dari pak yeye ialah,disamping wajahnya yang terlihat menakutkan,pak yeye sebenarnya guru yang amat menyenangkan  dan mudah bergaul,hal ini lebih dipahami oleh kakak kelas 3 kami,karena mereka yang sering bercanda dengan pak yeye,namun tetap pada batasannya. Dan pak yeye juga menjadi salah satu guru faforitku,karena beliau selalu mengaitkan materi yang ia ajarkan dengan dali  Al Quran,seperti kali ini materi Bhineka Tunggal Ika beliau kaitkan dengan Q.S al Hujurat ayat 13.
“sama dengan pelajaran yang antum pelajari  sekarang,di dalam firman Allah tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa kita diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kita saling mengenal,apapun bentuk,warna kulit kita,bahkan agama dan budaya kita,kita harus tetap satu,seperti Bhineka Tunggal Ika dan terikat landasan Pancasila,dan seperti salah satu pesan di film yang bapak nonton kemaren Pancasila itu bukan hanya digunakan saat kita dinegara kita saja,namun Pancasila itu di hati,nah siapa yang tau film itu?” dengan raut wajah sedikit sumringah
“ayat-ayat cinta 2 paaak” kami sekelas serentak menjawab.Bagaimana tidak film itu termasuk pada nominasi  film trending topik akhir Desember ini. Pak Yeye memang sekali-sekali memberi bumbu lucu pada setiap pelajarannya,namun tak pernah sampai menghilangkan wibawanya. Lonceng kembali berdenting,mengakhiri pelajaran hari ini dan pelajaran hari ini berakhir dengan menyenangkan.
      Siang harinya kegiatanku tak seperti anak-anak biasanya,yang bisa bermain,atau tidur-tiduran,pulang sekolah selepas shalat dzuhur dan makan aku harus menggantikan pekerjaan ibu dirumah,mulai dari menyapu,menyuci piring,hingga menyuci pakaian,dan menjaga adikku,Arsyila namanya,setelah semua tugasku selesai barulah aku bisa rehat sejenak,melanjutkan hobiku membaca,buku-buku yang ku punya bukan berasal dari toko-toko nan bukunya dilapisi plastik,buku-buku yang ku punya ialah hadiah dari ibu dan ayah,mereka selalu membelikanku buku bekas di pasar loak,jika penghasilannya lebih baik,bagiku tak apa,toh semua buku ini isinya masih bisa dibaca,banyak ragam ilmu yang bisa kudapat didalamnya.
     Semburata jingga menghiasi awan,induk ayam mulai menggiring anak-anaknya untuk masuk kandang,beberapa lampu rumah mulai diterangi cahaya,ibu dan ayah pulang,seperti biasa jelas raut lelah di wajahnya,namun ia tetap menampilkan seutas senyum nan teramat iklas. “assalamu’alaikum Ay,syila” de
“wa’alaikumsalam yah bu” aku dan syila lekas menyalami ayah dan ibu,bergegas mengambil tas kerja lusuh yang dibawa ibu,pasti mereka teramat lelah. Ayah dan ibuku bekerja di pabrik pembuat petasan.
   Malam diselimuti siluet hitam,dihiasi titik putih karena sinaran lampu,beberapa masih memakai petromaks. Malam ini seperti biasa kami kumpul di meja makan,ibu baru memasak ikan asin dicampuri kentang dan jengkol,kesukaan ayah. Di meja makan ayah bertanya seperti biasa.
“bagaimana hari-harimu di sekolah Alya”
“masih seperti biasa yah,belajar dengan guru-guru yang ngajarnya super asik,dan tadi Alya ada peningkatan loh yah” dengan wajahku berbinar-binar
“iya,apa itu?”
“Alya tadi tak terlambat lagi”
“kan bagus jika Alya datang pagi nak,jadi tak ngos-nsgosan pas udah disekolah,jadi bisa lebih fokus lagi belajarnya” kali ini ibu yang ikut menanggapi
“syila ko ga ditnya yah” manyun wajah tomat
“eh,iya ,syila skolahnya bagaimana,asik nak?”
“asik yah,tapi tetap ada teman syila yang jail”
“tapi syila ga balaskan?” ibu menyelidik
“selagi syila sabar,syila ga balas ko bu”
“anak-anak ayah dan ibu disekolah harus jadi anak yang shalehah,anak yang baik,yang patuh pada bapak dan ibu gurunya,mereka sama seperti ayah dan ibu yang mendidik kalian,paham?” kali ini ayah serius,memberi nasehat
“untuk masalah,guru yah,insyaallah kami menjadi murid yang disayangi yah” tiba-tiba jawabanku dan syila serentak sama.
           Hari berganti hari,bulan berganti bulan,bahakan tahun berganti tahun,sekarang aku telah berada di akhir kelas 3, beberapa bulan lagi akan menghadapi   ujian nasional,prestasiku semakin meningkat,semester satu kemaren aku berhasil meraih juara satu,dan untuk masalah berangkat kesekolah kini aku tak menjadi si terlambat lagi,aku memperbaiki  jam berangkatku,mempersiapkan semuanya dikala malam sebelum tidur,begitu juga adikku syila,akhir-akhir ini ia jarang menangis atau meminta sesuatu seperti yang dimiliki temannya disekolah,kini ia lebih paham tentang hakikat hidup,tentang harga-menghargai.
          Tak seperti biasanya,pagi ini hatiku sedikit gelisah entah karena apa,memang beberapa minggu belakangan ibu sering batuk-batuk dan sedikit pucat,namun ibu tetap bersemangat pergi bersama ayah bekerja,tetap tersenyum dan bertanya sekolah kami di meja makan dan tetap seperti yang ibu lakukan biasanya. Pagi ini aku tetap memutuskan untuk sekolah karena ada pelajaran tambahan bersama buk Jawanis dan pak Yeye,kali ini giliran mereka. Disekolah aku dan adikku Arsyila memang dikenal rajin dan pandai,kami disenangi semua teman maupun guru,semua serasa keluarga bagi kami.
         Jam pertama bersama buk Jawanis seperti biasanya tetap lancar,kali ini buk Jawanis sedikit mengurangi untuk bercerita,karena kami akan menghadapi ujian akhir sekolah dan ujian nasional,ujian yang menjadi penentu dari perjuangan kami selama ini. Lonceng berdenting nyaring,bertanda saatnya istirahat,kali ini aku lebih memilih untuk ke mesjid,sampai saat ini hatiku masih gelisah,apakah karena kondisi ibu,atau karena masa-masa ujian akan datang,aku segera berwudhu,shalat duha akan memberi ketenangan,doa untuk ibu semoga lekas sehat dan seperti biasanya yang kami lihat,shalat ini membuat hatiku lebih lapang,semoga semua baik-baik saja.
       Jam pelajaran selanjutnya,kami belajar dengan pak Yeye bab terakhir tentang HAM,lagi-lagi pak Yeye mengaitkannya dengan Al Quran.
“taukah antum semua,jika di dunia kita memiliki hak hidup,berpolitik,menyatakan pendapat,maka dengan Allah swt kita juga memiliki hak untuk kembali,kembali kepada yang telah menjadikan semua yang bernyawa,yakinlah semua yang kita punyai sekarang hanyalah titipan,tak lebih tak kurang,seperti yang sering kita ucapkan Innalillahi wa innailaihi raji’un,sesungguhnya semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah,maka kematian adalah salah satu hak yang diberikan Allah kepada kita,maka janganlah kalian terlalu berlarut-larut atas semua yang ada lalu meninggalkan kita” dengan nada sendu namun tersimpan ketegasan didalamnya.
“baik anak-anak kita lanjut ke materi HAM,itu sedikit pemahaman agama yang dapat bapak berikan kepada kalian,maka amalaknlah baik-baik.”
“baik pak” kami semua menjawap serempak.
     Entah angin apa yang membawa kabar itu,tiba-tiba semua serasa berubah bagiku hatiku ngilu seperti tertusuk sembilu berduri,langkahku lunglai meninggalkan kelas,butiran bening itu mulai menggenangi sudut mataku,bahkan teman-temanku hanya menatapku kosong,diam tak berkutik,buk Jawanis langsung yang menyampaikan kepadaku tergopoh-gopoh,membimbingku menuju mobil sekolah,ternyata didalamnya telah ada adikku Arsyila,bahkan ia lebih panik lagi,badannya mendingin,kami segera kerumah sakit.
     Dirumah sakit aku dan adikku,dan bu Jawanis,ibu yang sudah seperti ibuku sendiri,kami bertiga hanya bisa berada dipintu ruang UGD,kedua orang tua ku sekarang didalam sana,dokter sepertinya sangat bekerja keras untuk masalah ini. Beberapa jam kemudian sang dokter keluar,raut wajahnya sepertinya tak baik,amata berat dokter itu menjelaskannya kepada kami,namun apa daya,seperti yang dikatakan pak Yeye tadi benar,amat benar,semua yang hidup akan pulang kepada yang Maha Hidup. Aku dan adikku benar-benar terpukul,ibu dan ayah kami telah tiada.
   Keeseokkan harinya kami tentu tidak sekolah,jenazah ibu dan ayah telah sampai dirumah,kami dibantu tetangga sekitar untuk mempersiapkan rumah,mempersiapkan segala sesuatu untuk pemakaman. Beberapa jam kemudian halaman rumahku telah ramai,karib kerabat ibu dan ayah yang dekat maupun jauh berdatangan,namun kali ini lebih ramai,ternyata guru-guru dan teman-temanku datang,mereka juga ikut turut teramat berduka akan kepergian ini. Kemudian kami mengantarkan mayat ibu dan ayah ke pemakaman,dengan teramat sakit,ku paksakan tetap tegar di depan adikku,tentu ia yang amat terpukul. Pulang dari sana aku hanya bisa duduk bersandarkan dinding,sedangkan adikku telah tidur karena teramat lelah. Guru-guru dan teman-temanku masih disini,mereka membacakan surah yasin bersama-sama,aku juga ikut,hadiah terbaik untuk ayah dan ibu. Setelah pembacaan yasin beberapa temanku berangsur pulang,hanya Hilya yang tinggal,ia baru menghampiriku.
“Alya,sini aku peluk,kamu masih ingatkan kisah yang diceritakan buk jawa ketika hari pertama kita sekolah? Sabarlah,sesungguhnya Allah sedang mengujimu.” Memeluk Alya dengan lembut
“terimakasih sahabatku,kau memang benar”
Hanya itu yang dapat disampaikan Hilya,kejadian ini benar-benar membuat jiwa goyah. Beberapa menit kemudian guru-guruku masih dirumahku,tunggu,mereka mendekatiku,tiba-tiba memelukku.
“Alya kau adalah anak yang berhati lurus,dan memiliki pemahaman hidup yang baik nak,maka tetaplah raih mimpi-mimpimu.” Pak Yeye yang mengawalinya,memberi nasehat terbaiknya
“sesungguhnya saat ini Allah sedang mengujimu Alya,akankah engkau bisa melewati ujian ini dengan sabar dan iklas,jika iya,maka Allah akan mengangkat derajatmu,tetaplah berpegang teguh dan menjadi murid ibu yang shalihah” kali ini bu Jawanis yang memberi nasehat tulus itu
Dan guru yang lainnya memelukku dengan kasih sayang,memberikanku kehangatan,ini membuatku teringat pesan ibu,bahwa guruku juga orang tua ku.
  Hari-hari berikutnya,aku menjadi lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar